Antibiotik pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh ilmuwan asal Skotlandia, Sir Alexander Fleming, pada tahun 1928. Ia menemukan bahwa jamur Penicillium notatum dapat membunuh bakteri Staphylococcus, dan hasil temuannya kemudian dikenal sebagai penisilin, yang menjadi antibiotik pertama di dunia.
Penemuan ini merupakan salah satu revolusi di dunia kedokteran: penyakit-penyakit yang dulunya mematikan seperti pneumonia, sifilis, disentri, kolera, dan lain-lain kini bisa disembuhkan. Namun, hanya beberapa tahun setelah antibiotika digunakan secara luas, bakteri mulai menunjukkan kemampuan bertahan dan beradaptasi terhadap antibiotik. Ini menjadi awal munculnya fenomena resistensi antibiotik.
Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri berubah atau beradaptasi sehingga antibiotik tidak lagi mampu membunuhnya. Akibatnya, infeksi menjadi sulit diobati, memerlukan obat yang lebih kuat, lebih mahal, dan waktu pengobatan lebih lama. Fenomena ini kini menjadi ancaman global, yang oleh World Health Organization (WHO) digolongkan sebagai salah satu “silent pandemic”.
Resistensi antibiotik kini menjadi salah satu ancaman kesehatan paling serius di dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), masalah ini menyebabkan sekitar 1,27 juta kematian langsung dan berkontribusi terhadap 4,95 juta kematian di seluruh dunia pada tahun 2019. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sekitar 70 persen bakteri Klebsiella pneumoniae dan E. coli yang ditemukan di rumah sakit sudah resisten terhadap antibiotik lini pertama. Jenis resistensi ini dikenal sebagai Extended Spectrum Beta-Lactamase (ESBL), yaitu kemampuan bakteri untuk memecah berbagai antibiotik sehingga pengobatan menjadi tidak efektif.
Meningkatnya resistensi ini tidak lepas dari perilaku penggunaan antibiotik di masyarakat. Survei Kemenkes pada tahun 2023 menemukan bahwa 41 persen masyarakat masih menggunakan antibiotik tanpa resep dokter. Kebiasaan ini menjadi salah satu pemicu dalam mempercepat munculnya bakteri yang kebal terhadap berbagai jenis antibiotik.
Resistensi antibiotik terjadi karena berbagai faktor yang saling berkaitan. Banyak masyarakat menggunakan antibiotik untuk kondisi yang sebenarnya tidak membutuhkan, seperti flu atau batuk akibat infeksi virus. Selain itu, masih banyak yang tidak menghabiskan antibiotik sesuai anjuran dokter atau membeli antibiotik tanpa resep di apotek maupun toko obat. Penggunaan antibiotik secara berlebihan di sektor peternakan dan pertanian juga turut memperburuk situasi, kondisi ini diperparah dengan kurangnya edukasi dan pengawasan terkait penggunaan obat yang rasional.
Dampak resistensi antibiotik sangat besar dan dapat dirasakan dalam berbagai aspek pelayanan kesehatan. Infeksi yang sebelumnya mudah diobati kini menjadi lebih sulit dan membutuhkan terapi yang lebih kompleks. Prosedur medis seperti operasi besar, kemoterapi, hingga persalinan menjadi lebih berisiko karena infeksi pasca-tindakan bisa tidak merespons pengobatan. WHO bahkan memperkirakan bahwa jika resistensi antibiotik tidak dikendalikan, jumlah kematian akibat kondisi ini dapat mencapai 10 juta jiwa per tahun pada 2050, melampaui angka kematian akibat kanker.
Meski ancamannya besar, resistensi antibiotik dapat dicegah bila seluruh lapisan masyarakat berperan. Penggunaan antibiotik harus benar-benar dilakukan hanya jika diresepkan oleh dokter dan harus dihabiskan sesuai dengan dosis serta durasi yang sudah ditentukan. Masyarakat juga perlu menghindari menggunakan antibiotik sisa atau memberikan obat tersebut kepada orang lain. Upaya pencegahan infeksi melalui perilaku hidup bersih dan sehat serta vaksinasi sangat penting agar kebutuhan penggunaan antibiotik dapat ditekan. Selain itu, dukungan terhadap kebijakan nasional, seperti Strategi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba (STRANAS-AMR 2025–2029), menjadi langkah penting untuk memperkuat edukasi dan pengawasan dalam penggunaan antibiotik di Indonesia.
Antibiotik adalah anugerah besar dalam dunia kedokteran, tetapi penggunaannya yang tidak bijak dapat mengubah anugerah tersebut menjadi sebuah ancaman. Mari bersama mencegah resistensi antibiotik agar generasi mendatang tetap dapat menikmati manfaat obat yang telah menyelamatkan jutaan nyawa sejak penemuan Fleming hampir seabad lalu. Dengan bijak menggunakan antibiotik hari ini, kita turut memastikan bahwa harapan kesembuhan tetap tersedia bagi mereka yang membutuhkannya di masa depan.
#PekanKesadaranAntiMikrobaSedunia #WAAW2025 #ActNow #ProtectOurPresent #SecureOurFuture #RSUPKemenkesSurabaya
Daftar Pustaka
dr. Rizki Adrian Hakim, Sp.P.D. (Dokter Spesialis Penyakit Dalam)
Ferdina Elisya Putri, S.K.M