“Dok, kalau sudah disuruh bypass berarti kondisinya sudah parah sekali, ya?”
“Kalau operasi jantung pasti lama pulihnya.”
“Usia saya sudah tua, pasti tidak bisa operasi.”
“Sekarang, kan, ada pasang ring, bypass sudah tidak diperlukan lagi.”
Mungkin itulah beberapa kekhawatiran bagi sebagian besar pasien. Biasanya, ketakutan bukan bersumber dari operasinya sendiri, melainkan dari berbagai informasi yang didengar dari teman, keluarga, media sosial, atau pengalaman orang lain yang belum tentu sesuai dengan kondisi masing-masing pasien. Padahal, dunia bedah jantung telah berkembang sangat pesat dalam beberapa dekade terakhir.
Teknologi operasi, anestesi, perawatan intensif, rehabilitasi jantung, hingga pendekatan minimal invasif terus berkembang untuk meningkatkan keselamatan dan kualitas hidup pasien (Lawton et al., 2022; Vrints et al., 2024). Karena itu, mari kita bahas beberapa mitos yang masih sering dipercaya masyarakat mengenai operasi bypass jantung.
Mitos vs Fakta 1: Risiko Operasi Bypass Jantung
Mitos: Operasi bypass pasti menyeramkan dan sangat berbahaya.
Fakta: Operasi bypass memang merupakan tindakan bedah besar, tetapi bukan berarti prosedur yang harus ditakuti secara berlebihan.
Saat ini, operasi bypass merupakan salah satu prosedur bedah jantung yang paling sering dilakukan di berbagai pusat layanan jantung dunia dan telah memiliki dasar bukti ilmiah yang sangat kuat selama puluhan tahun (Lawton et al., 2022). Yang sering terlupakan adalah bahwa dokter tidak menyarankan bypass tanpa alasan. Sebelum operasi dilakukan, pasien akan menjalani berbagai pemeriksaan untuk menilai:
1. Kondisi jantung
2. Fungsi paru
3. Fungsi ginjal
4. Kondisi pembuluh darah
5. Penyakit penyerta (komorbid)
6. Tingkat risiko tindakan
Dengan kata lain, keputusan operasi dibuat setelah mempertimbangkan manfaat dan risiko secara menyeluruh. Sering kali, risiko terbesar justru muncul ketika penyumbatan pembuluh darah jantung yang berat dibiarkan tanpa penanganan yang sesuai.
Mitos vs Fakta 2: Operasi Harus Menghentikan Detak Jantung
Mitos: Kalau operasi jantung, pasti harus menghentikan jantung.
Fakta: Tidak selalu. Inilah salah satu fakta yang paling mengejutkan bagi masyarakat.
Pada sebagian pasien, operasi bypass memang dapat dilakukan menggunakan mesin jantung-paru. Namun, pada pasien tertentu, operasi bypass juga dapat dilakukan saat jantung tetap berdetak melalui teknik Off-Pump Coronary Artery Bypass Grafting (OPCAB) atau operasi bypass tanpa mesin jantung-paru sebagai bagian utama prosedur (Lawton et al., 2022; Calafiore et al., 2024). Artinya, tidak semua operasi bypass identik dengan jantung dihentikan. Perkembangan teknologi dan teknik bedah modern memungkinkan pendekatan yang semakin beragam sesuai dengan kebutuhan pasien.
Mitos vs Fakta 3: Jangka Waktu Pemulihan Pascaoperasi
Mitos: Kalau operasi bypass, pasti pemulihannya lama sekali.
Fakta: Pemulihan setiap pasien berbeda-beda dan dipengaruhi oleh banyak faktor.
Beberapa faktor yang memengaruhi proses pemulihan antara lain adalah usia, kondisi jantung sebelum operasi, penyakit penyerta, status gizi, aktivitas fisik sebelum operasi, serta kepatuhan menjalani rehabilitasi jantung.
Pada banyak pasien, aktivitas ringan sudah dapat dimulai dalam waktu relatif singkat setelah operasi, sesuai anjuran dokter dan tim rehabilitasi. Bahkan, berbagai teknik bedah modern termasuk pendekatan minimal invasif pada pasien tertentu, dikembangkan untuk membantu mengurangi trauma operasi dan mempercepat proses pemulihan (Sef et al., 2024).
Menariknya, pengalaman banyak pasien pasca-bypass menunjukkan bahwa setelah melewati masa pemulihan, mereka dapat kembali bekerja, berolahraga, bepergian, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan kualitas hidup yang baik. Karena itu, operasi bypass bukanlah akhir dari aktivitas seseorang. Justru pada banyak kasus, operasi dilakukan agar pasien dapat kembali beraktivitas dengan lebih nyaman.
Mitos vs Fakta 4: Batasan Usia untuk Operasi
Mitos: Kalau usia sudah tua, tidak bisa operasi bypass.
Fakta: Usia bukan satu-satunya faktor penentu.
Saat ini, banyak pasien usia lanjut yang berhasil menjalani operasi bypass dengan hasil yang baik. Yang lebih penting adalah kondisi biologis pasien secara keseluruhan, bukan hanya angka usia di kartu identitas. Dokter akan mengevaluasi beberapa hal di antaranya adalah fungsi jantung, paru, ginjal, kemampuan aktivitas sehari-hari, adanya penyakit penyerta, serta status frailty atau kerapuhan fisik.
Karena itu, tidak benar bahwa semua pasien usia lanjut otomatis tidak dapat menjalani operasi. Keputusan terapi selalu dilakukan secara individual berdasarkan kondisi masing-masing pasien (Lawton et al., 2022; Vrints et al., 2024).
Mitos vs Fakta 5: Pasang Ring (Stent) vs Operasi Bypass
Mitos: Pasang ring (stent) selalu lebih baik daripada bypass.
Fakta: Ini adalah salah satu kesalahpahaman yang paling sering ditemui. Pasang ring (stent) dan bypass bukanlah kompetitor yang saling menggantikan. Keduanya memiliki indikasi masing-masing.
Pada sebagian pasien, pemasangan stent merupakan pilihan yang sangat baik. Namun, pada kelompok pasien tertentu misalnya penyakit pembuluh darah koroner multipembuluh, penyakit left main tertentu, diabetes dengan kompleksitas koroner tinggi, atau gangguan fungsi jantung, Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) dapat memberikan manfaat jangka panjang yang lebih baik dibandingkan PCI/stent (Lawton et al., 2022; Vrints et al., 2024). Karena itu, dokter tidak menentukan terapi berdasarkan mana yang lebih modern atau lebih populer. Yang menjadi pertimbangan utama adalah terapi yang paling sesuai untuk kondisi pasien.
Mitos vs Fakta 6: Kesembuhan Total Setelah Operasi
Mitos: Kalau sudah bypass, berarti penyakit jantung sembuh total.
Fakta: Bypass memperbaiki aliran darah menuju otot jantung, tetapi tidak menghilangkan kecenderungan seseorang untuk mengalami aterosklerosis (penyempitan pembuluh darah).
Oleh karena itulah, setelah operasi pasien tetap perlu mengontrol tekanan darah, kadar gula darah, kadar kolesterol, harus berhenti merokok, berolahraga secara teratur, menjalani pola makan sehat, dan mengonsumsi obat sesuai dengan anjuran dokter. Operasi merupakan bagian dari perjalanan terapi, dan bukan merupakan garis akhir dari perawatan penyakit jantung koroner (Vrints et al., 2024).
Mitos vs Fakta 7: Harapan Hidup Setelah Disarankan Bypass
Mitos: Kalau sudah disarankan bypass, berarti tidak ada harapan lagi.
Fakta: Justru sering kali sebaliknya. Operasi bypass dilakukan dengan tujuan memperbaiki aliran darah ke jantung, mengurangi gejala, dan meningkatkan kualitas hidup.
Pada kelompok pasien tertentu, operasi bypass dapat memberikan manfaat jangka panjang yang signifikan (Lawton et al., 2022). Banyak pasien yang setelah menjalani bypass dapat kembali bekerja, mengemudi, berolahraga, berkumpul bersama keluarga, serta menjalankan berbagai aktivitas yang sebelumnya terganggu atau terbatas akibat menderita penyakit jantung.
Tujuan utama terapi bukan hanya memperpanjang usia, tetapi juga mengembalikan kualitas hidup pasien.
Pesan Untuk Masyarakat
Memiliki ketakutan terhadap operasi merupakan hal yang wajar. Namun, keputusan medis sebaiknya tidak didasarkan pada mitos atau cerita yang belum tentu sesuai dengan kondisi pasien. Setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda. Karena itu, penting untuk berdiskusi langsung dengan dokter agar memperoleh informasi yang akurat dan sesuai dengan kondisi masing-masing.
Jika Sobat Sehat atau keluarga memiliki penyakit jantung koroner, pernah disarankan menjalani bypass, atau masih memiliki banyak pertanyaan mengenai operasi jantung, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tim pelayanan jantung RSUP Kemenkes Surabaya.
Sering kali, yang paling menakutkan bukanlah penyakitnya, melainkan ketidaktahuan tentang penyakit tersebut. Ketika informasi yang benar tersedia, rasa takut sering kali akan berubah menjadi harapan.