Halo, Sobat Sehat!
Melihat anggota keluarga tercinta harus bergantung pada mesin alat bantu napas (ventilator) dalam waktu lama di ruang Intensive Care Unit (ICU) tentu menjadi beban emosional yang berat. Namun, seiring dengan kemajuan teknologi medis, saat ini ada solusi yang lebih nyaman dan aman bagi pasien, yaitu Percutaneous Dilatational Tracheostomy atau yang disingkat menjadi PDT.
Mengapa Pasien Memerlukan PDT?
Pasien yang dirawat di ICU sering kali membutuhkan bantuan napas melalui selang yang dimasukkan dari mulut menuju paru-paru. Prosedur PDT biasanya menjadi pilihan yang lebih baik ketika pasien mengalami kondisi berikut:
- Gagal Napas: Ketidakmampuan paru-paru untuk bekerja secara mandiri akibat infeksi berat atau penyakit kronis (seperti infeksi bakteri, jamur, atau virus pada paru-paru).
- Sumbatan Jalan Napas Atas: Adanya hambatan di area tenggorokan yang mengganggu aliran udara, misalnya akibat penumpukan dahak atau adanya tumor.
- Penggunaan Ventilator Jangka Panjang: Jika pasien masih membutuhkan alat bantu napas lebih dari 7–10 hari—misalnya karena penurunan kesadaran akibat masalah pada otak, saraf, atau organ lainnya—penggunaan selang dari mulut dapat memicu komplikasi dan rasa tidak nyaman.
Manfaat Utama: Lebih dari Sekadar Alat Bantu
Sobat Sehat, PDT dapat membantu untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Berikut adalah beberapa manfaat utamanya:
- Mengurangi Ketergantungan Obat Bius: Jalur napas melalui leher jauh lebih nyaman dibandingkan melalui mulut. Hal ini memungkinkan dokter untuk mengurangi dosis obat penenang, sehingga pasien bisa lebih sadar dan responsif.
- Memudahkan Pembersihan Paru-Paru: Perawat dapat lebih mudah dan maksimal dalam menyedot lendir yang menyumbat. Imbasnya, risiko infeksi paru (pneumonia) akan menurun secara signifikan.
- Langkah Awal Berlatih Makan dan Bicara: Dengan tingkat kenyamanan yang lebih baik, pasien memiliki peluang untuk mulai belajar menelan dan berkomunikasi secara bertahap.
- Luka Sayatan Sangat Minim: Berbeda dengan teknik trakeostomi konvensional, sayatan pada teknik PDT sangat kecil (kurang dari 1–2 cm). Prosedur ini menggunakan teknik dilatasi (pelebaran area sayatan dengan alat khusus), sehingga luka dapat menutup dengan sangat cepat. Jika tidak ada infeksi, luka bahkan bisa menutup secara alami tanpa perlu dijahit ulang dalam waktu 24–48 jam setelah selang (kanul) dilepas.
Tata Kelola: Dari Tindakan Medis hingga Kembali ke Rumah
Dokter spesialis Anestesi di RS Kemenkes Surabaya melakukan PDT dengan teknik sayatan sangat kecil (minimal invasif) langsung di tempat tidur pasien tanpa ke ruang operasi. Prosedur ini relatif cepat dan memiliki risiko perdarahan yang sangat rendah.
Lalu, bagaimana setelah kondisi pasien membaik?
Tim medis akan memulai proses dekanulasi, yaitu pelepasan selang trakeostomi. Proses ini dilakukan apabila otot napas pasien sudah kembali kuat, mampu batuk dengan efektif, serta bisa menelan, mengunyah, dan mengeluarkan suara. Bekas lubang sayatan di leher akan menutup secara alami. Jika dalam kondisi tertentu dekanulasi belum dapat dilakukan segera, pasien akan tetap dipantau secara ketat dan dirawat inap untuk menjalani fisioterapi serta latihan berbicara.
Dukungan Penuh Hingga Perawatan di Rumah (Home Care)
Bagi pasien yang kondisinya sudah stabil dan diizinkan pulang namun masih memerlukan alat PDT, RS Kemenkes Surabaya menyediakan layanan edukasi Home Care. Keluarga akan dilatih secara langsung mengenai cara menjaga kebersihan alat dan teknik penyedotan lendir mandiri. Dengan begitu, pasien tetap merasa aman dan nyaman di rumah. Sobat Sehat juga tidak perlu khawatir, karena kami akan mempermudah akses ke ruang IGD jika sewaktu-waktu terjadi kendala pada pasien dengan PDT yang membutuhkan penanganan segera.
Layanan Unggulan RS Kemenkes Surabaya
Kami memahami bahwa setiap detik di ruang ICU sangatlah berharga. Oleh karena itu, RS Kemenkes Surabaya didukung oleh tim dokter spesialis anestesi yang berpengalaman dan peralatan pemantauan canggih untuk memastikan setiap prosedur berjalan aman dan lancar demi kesembuhan orang yang Anda cintai. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tim dokter kami. Langkah kecil hari ini bisa menjadi awal dari napas yang lebih lega di esok hari.
Daftar Rujukan
Ciaglia, P., Firsching, R., & Syniec, C. (1985). Elective percutaneous dilatational tracheostomy: A new simple bedside procedure; preliminary report. Chest, 87(6), 715–719.
Gropper, M. A., Cohen, N. H., Eriksson, L. I., Fleisher, L. A., & Wiener-Kronish, J. P. (2020). Airway management. In Miller's anesthesia (9th ed., Chapter 4). Elsevier.
Grott, K., Chauhan, S., & Dunlap, J. D. (2024). Percutaneous tracheostomy. In StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK553194/
Higgins, D. (2009). Tracheostomy 1: Indications and management. Nursing Times, 105(30), 14–15.
Kementerian Kesehatan RI. (2021). Kurikulum pelatihan intensive care unit (ICU) bagi dokter. BPPSDM Kesehatan.
Kementerian Kesehatan RI. (2023). Buku ajar anestesi THT-KL dan bedah mulut. Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.
Oropello, J. M., Kvetan, V., & Pastores, S. M. (2016). Percutaneous tracheostomy. In Critical care (Chapter 2.2). McGraw-Hill Education.
Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN). (2020). Panduan tata laksana terapi intensif. PERDATIN.
Raimondi, N., Vial, M. R., Calleja, J., Quintero, A., Cortés, A., Celis, E., et al. (2017). Evidence-based clinical practice guideline for the use of percutaneous tracheostomy in the critically ill. Medicina Intensiva, 41(2), 94–112.
Ditulis Oleh: dr. Hendra Leofirsta, Sp.An-TI
Disunting Oleh: Hamidah Indrihapsari, SKM, MKM