Diabetes mellitus (DM) atau kencing manis adalah penyakit kronis yang ditandai dengan naiknya kadar gula darah melebihi batas normal akibatgangguan produksi atau penggunaan insulin. Prevalensi diabetes terus meningkat setiap tahunnya. Data global memperkirakan sekitar 463 juta orang dewasa hidup dengan diabetes pada 2022 dan angka ini diproyeksikan akan terus meningkat pada dekade berikutnya.
Salah satu tantangan yang dihadapi oleh penderita diabetes adalah lukayang sulit mengering atau sulit sembuh. Beberapa faktor penyebabnyaantara lain : penurunan aliran darah perifer (iskemia) sehingga suplaioksigen dan nutrisi ke jaringan berkurang, neuropati perifer yang menyebabkan pengurangan sensasi sehingga luka kecil sering tidakdisadari dan terlambat ditangani, serta gangguan fungsi imun akibathiperglikemia sehingga meningkatkan risikoinfeksi dan pembentukan jaringan mati (nekrosis). Kombinasi faktortersebut memperlambat regenerasi jaringan sehingga luka lebih sulitsembuh.
Dalam kondisi seperti ini, salah satu prosedur medis yang dapatmembantu mempercepat penyembuhan luka adalah debridement. Debridement adalah prosedur pengangkatan jaringan mati, kotoran, dan jaringan yang terinfeksi dari dasar luka agar proses penyembuhan dapatdimulai dengan kondisi “wound bed” yang bersih. Pedoman internasionalmenyarankan debridement sebagai bagian dari rencana perawatan lukakomprehensif.
Debridement luka dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, antara lain, 1) Debridement Tajam/Bedah (Sharp/Surigical) yaitu pengangkatan jaringan nekrotik secara mekanis dengan skalpel atau gunting yang dianggap sebagai metode yang efektif dan cepat namun membutuhkan tenaga terlatih dan pengawasan, 2) Autolitik yaitu menggunakan dressing untuk mendorong tubuh sendiri melarutkan jaringan mati, 3) Enzimatik yaitu dengan pemberian enzim untuk melarutkan jaringan nekrotik, 4) Biologis (Mango/Larva Therapy) dengan menggunakan larva steril yang secara selektif akan memakan jaringan nekrotik dan menurunkan beban bakteri dan, 5) Mekanis/Hidrourgikal/Ultrasonik, yaitu metode modern yang menggunakan aliran air atau energi ultrasonik untuk membersihkan luka.
Debridement bedah dipertimbangkan bila ditemukan adanya jaringannekrotik luas, tanda infeksi berat, atau bila metode non bedah gagal. Keputusan harus mempertimbangkan status vascular (jika ada iskemia, perlu evaluasi vascular/angiografi) dan kondisi sistemik pasien.Keberhasilan prosedur debridement dapat dilihat dari adanya penurunanluas luka dan produksi eksudat, muncul jaringan granulasi sehat di dasarluka, penurunan bau, kemerahan, dan tanda-tanda infeksi, serta hasilmikrobiologi dan tanda vital membaik jika sebelumnya ada infeksisistemik.
Debridement bedah dapat menimbulkan perdarahan, nyeri ataumemburuknya jaringan jika vaskularisasi buruk. Oleh karena itu, pasiendengan penyakit vaskular perifer yang signifikan, gangguan perdarahan, atau kondisi medis lain harus dievaluasi terlebih dahulu. Tetapi perludiingat bahwa debridement bukanlah solusi tunggal, perlu pendekatanefektif dan komprehensif.
RSUP Kemenkes Surabaya menyediakan fasilitas dan tenaga spesialisuntuk penanganan luka kaki diabetik, termasuk prosedur debridement, evaluasi vaskular, dan program tindak lanjut. Konsultasikan segera bilaAnda menemukan luka yang tidak sembuh pada penderita diabetes: deteksi dini dan penanganan tepat meningkatkan peluangpenyembuhan dan mencegah amputasi.
Mari bersama RSUP Kemenkes Surabaya menjaga kesehatan kita dari luka, melawan komplikasi yang bisa dicegah, dan menjadikan Hari Diabetes Sedunia sebagai panggilan untuk bertindak. Karena setiap langkah kecil dalam perawatan diri hari ini memiliki pengaruh besar pada hasil di masa depan.
#WorldDiabetesDay2025 #HariDiabetesSedunia2025 #RSUPKemenkesSurabaya
Daftar Pustaka
IWGDF — Practical Guidelines & Wound Healing Guideline (2023).
PNPK Kemenkes RI — Tata Laksana Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa (2020) dan pedoman PERKENI (2021) untuk konteksnasional.
Narasumber: dr. Adya Jati Nugrahadi, Sp.B
Disunting oleh: Noviana Nur Vitasari, S.K.M