Kenali Gejala PPOK Sejak Awal: Sesak Napas Bisa Jadi Tanda Bahaya

Kenali Gejala PPOK Sejak Awal: Sesak Napas Bisa Jadi Tanda Bahaya

26 Nov 2025
Bagikan:

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan salah satu masalah kesehatan yang berkembang secara perlahan namun berdampak besar bagi kualitas hidup penderitanya. Menurut WHO, PPOK merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia. Pada tahun 2019 tercatat sekitar 3,23 juta kematian akibat PPOK di seluruh dunia. Menurut data WHO tahun 2021, PPOK menempati peringkat ke-4 sebagai penyebab kematian dan diproyeksikan menjadi beban penyakit yang semakin meningkat di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Sementara di Indonesia, berdasarkan data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi PPOK mencapai 3,7% yaitu sekitar 9,2 juta jiwa. 

PPOK terjadi ketika saluran napas mengalami penyempitan dan kerusakan sehingga udara sulit keluar dari paru. Kondisi ini biasanya berkembang akibat paparan jangka panjang terhadap zat yang mengiritasi paru, terutama asap rokok. Perokok aktif maupun pasif memiliki risiko lebih tinggi. Selain itu, paparan polusi udara, asap kendaraan, debu atau bahan kimia di tempat kerja, serta riwayat infeksi paru yang berulang sejak masa kecil juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami PPOK. PPOK umumnya mulai muncul pada usia di atas 40 tahun, meski keluhan bisa saja terasa lebih awal pada mereka yang memiliki paparan tinggi.

Gejala PPOK sering muncul secara bertahap dan terasa ringan di awal, sehingga banyak orang yang mengabaikannya. Salah satu tanda paling umum adalah sesak napas saat beraktivitas ringan, seperti berjalan cepat atau menaiki tangga pendek. Selain itu, batuk berkepanjangan yang tidak hilang selama berbulan-bulan, dahak berlebih terutama pada pagi hari, napas berbunyi atau mengi, serta tubuh mudah lelah juga dapat menjadi petunjuk awal PPOK. Infeksi saluran napas yang berulang, seperti ISPA atau flu berat, juga bisa menjadi tanda bahwa fungsi paru sedang menurun.

Pencegahan PPOK dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari, seperti menghentikan kebiasaan merokok, melakukan aktivitas fisik secara teratur, menghindari paparan polusi udara dan asap berbahaya, menggunakan masker saat berada di lingkungan berdebu, serta menjaga ventilasi rumah juga membantu melindungi paru. Selain itu, penderita PPOK juga direkomendasikan untuk menerima vaksinasi seperti, vaksinasi influenza, vaksinasi SARS-CoV-2 (COVID-19), vaksinasi konjugat pneumokokus 21-valen (PCV21), vaksinasi virus sinsitial pernapasan (RSV), vaksinasi Tdap (dTaP/dTPa), dan vaksinasi Zoster. 

Mengingat gejala PPOK sering berkembang secara perlahan dan tidak disadari, maka pemeriksaan medis juga menjadi langkah yang penting untuk memastikan kondisi paru terpantau dengan baik. Poli Paru RS Kemenkes Surabaya menyediakan layanan konsultasi dan pemeriksaan oleh dokter spesialis paru yang kompeten, sehingga masyarakat dapat melakukan evaluasi dini apabila mengalami keluhan pernapasan atau memiliki faktor risiko PPOK.

PPOK dapat dicegah dan dikendalikan bila dikenali sejak dini. Dengan rutin memeriksakan kesehatan paru, menghindari paparan asap rokok dan polusi, serta menerapkan langkah pencegahan yang tepat, masyarakat dapat menjaga fungsi paru tetap optimal. RSUP Kemenkes Surabaya berkomitmen mendukung upaya edukasi dan deteksi dini agar masyarakat dapat hidup lebih sehat dan terhindar dari risiko PPOK. 


#WorldCOPDDay2025   #COPDAwareness  #RSKemenkesSurabaya

Daftar Pustaka

  1. World Health Organization. (2024, 6 November). Chronic obstructive pulmonary disease (COPD). https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/chronic-obstructive-pulmonary-disease-%28copd%29
    Executive Summary GOLD – Diagnosis, Management, and Prevention of COPD (PubMed). https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22878278/

  2. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease. (2024/2025). Global strategy for the diagnosis, management, and prevention of chronic obstructive pulmonary disease (2025 report). GOLD. https://goldcopd.org

  3. Muliase, I. N. (2023). Analisis Patogenesis, Faktor Risiko, dan Pengelolaan Penyakit Paru Obstruktif Kronik: Studi Literatur. Jurnal Sehat Indonesia, 6(01). https://doi.org/10.59141/jsi.v6i01.71

  4. Lutfian, L. (2021). Yoga Pranayama sebagai Upaya Rehabilitatif Paru Penderita PPOK: Literature Review. Jurnal Ilmu Kesehatan Bhakti Husada, 12(2). https://doi.org/10.34305/jikbh.v12i2.342

 

Narasumber: dr. Claudia, Sp.P
Di Sunting oleh: Ferdina Elisya Putri, S.K.M.

Informasi ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Jika Anda memiliki keluhan medis, konsultasikan dengan tenaga kesehatan profesional.
Panggilan Darurat
Form Pengaduan
Chat AI
Chat WhatsApp
Memuat halaman
Asisten Virtual RSKS
Siap membantu Anda

Halo! Saya Asisten Virtual RS Kemenkes Surabaya. Ada yang bisa saya bantu?

💬 Anda bisa mengetik atau menggunakan suara (tap icon mic).
⚠️ Catatan: Riwayat chat akan otomatis terhapus dalam 3 hari. Simpan informasi penting Anda.