Bagi masyarakat Indonesia, minum teh hangat setelah makan seolah sudah menjadi tradisi yang sulit dipisahkan. Rasanya ada yang kurang jika hidangan berat tidak ditutup dengan segelas teh manis atau teh tawar. Namun tahukah Sobat Sehat, di balik kesegarannya, ada risiko kesehatan yang sering diabaikan, yaitu munculnya anemia defisiensi besi.
Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup zat besi untuk menghasilkan hemoglobin, bagian sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Hubungan antara konsumsi teh dan penyerapan nutrisi inilah yang merupakan kunci mengapa kebiasaan sederhana ini bisa berdampak besar pada kebugaran Sobat Sehat sehari-hari.
Bagaimana Teh Menghambat Zat Besi dari Makanan Kita?
Mungkin Sobat Sehat bertanya-tanya, bagaimana mungkin minuman alami seperti teh bisa memengaruhi sel darah kita? Jawabannya terletak pada kandungan kimia alami di dalam daun teh yang disebut dengan tanin dan polifenol.
Zat besi yang Sobat Sehat dapatkan dari makanan terbagi menjadi dua jenis, yaitu zat besi heme (berasal dari daging merah, ayam, dan ikan) dan zat besi non-heme (berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti bayam, tempe, dan kacang-kacangan). Nah, tanin di dalam teh ini memiliki sifat seperti magnet yang sangat kuat bagi zat besi non-heme.
Ketika Sobat Sehat minum teh bersamaan dengan makan atau sesaat setelah makan, tanin akan mengikat zat besi di dalam lambung sebelum sempat diserap oleh usus kecil. Diibaratkan sebuah gembok, tanin mengunci zat besi tersebut sehingga tubuh tidak bisa menggunakannya. Akibatnya, meskipun makan makanan bergizi, tubuh tetap kekurangan “bahan baku” untuk membentuk sel darah merah. Jika kebiasaan ini dilakukan terus-menerus selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, Sobat Sehat dapat berisiko terkena anemia defisiensi besi terutama pada kelompok yang rentan.
Gejala Anemia yang Sering Dikira Sekadar Lelah Biasa
Masalah utama dari anemia defisiensi besi adalah gejalanya yang muncul perlahan. Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang sakit karena menganggap keluhan yang dirasakan adalah hal normal akibat kesibukan kerja. Berikut adalah beberapa tanda yang perlu Sobat Sehat waspadai:
-
5L (Lemah, Letih, Lesu, Lelah, Lunglai): Ini adalah gejala paling umum. Karena jaringan tubuh kekurangan oksigen, hal ini menyebabkan tubuh merasa cepat lelah meskipun tidak melakukan aktivitas berat.
-
Pucat pada wajah dan kelopak mata: Coba cek area kelopak mata bawah atau kuku Sobat Sehat. Jika warnanya pucat dan tidak kemerahan, itu dapat merupakan tanda kekurangan darah.
-
Sering pusing dan mata berkunang-kunang: Terutama saat bangkit berdiri secara tiba-tiba dari posisi duduk atau tidur.
-
Jantung berdebar: Karena jumlah sel darah merah sedikit, jantung harus bekerja lebih keras dan cepat untuk memompa oksigen ke seluruh tubuh.
-
Kuku sendok dan rambut rontok: Dalam kondisi kekurangan zat besi yang parah, kuku bisa menjadi rapuh dan berbentuk cekung seperti sendok, serta rambut menjadi lebih tipis.
Strategi Aman Menikmati Teh Tanpa Takut Kurang Darah
Apakah ini berarti Sobat Sehat harus berhenti minum teh selamanya? Tentu tidak! Teh memiliki banyak manfaat antioksidan yang baik bagi tubuh. Kuncinya bukan pada pelarangan, melainkan pada pengaturan waktu dan pola makan. Berikut adalah panduan praktis agar hobi minum teh tetap aman:
-
Beri jeda waktu: Jangan minum teh bersamaan dengan makan utama. Berikan jeda setidaknya 1 hingga 2 jam sebelum atau sesudah makan. Waktu ini cukup bagi sistem pencernaan untuk menyerap sebagian besar zat besi dari makanan tanpa gangguan dari tanin.
-
Tambahkan vitamin C: Vitamin C adalah “sahabat sejati” zat besi. Berbeda dengan teh yang dapat menghambat, vitamin C justru membantu mempercepat penyerapan zat besi di usus. Jadi, daripada minum teh setelah makan, lebih baik Sobat Sehat memilih jus jeruk atau tambahan perasan lemon/jeruk nipis ke dalam air putih. Jika ingin tetap minum teh, pastikan makan makanan yang kaya akan vitamin C untuk membantu melawan efek hambat dari tanin.
Siapakah Kelompok yang Rentan Terkena Anemia Defisiensi Besi?
-
Ibu hamil: Membutuhkan zat besi dua kali lipat untuk pertumbuhan janin.
-
Remaja putri dan wanita usia subur: Kehilangan darah setiap bulan karena menstruasi.
-
Anak-anak: Sedang dalam masa pertumbuhan otak dan fisik yang pesat.
-
Vegetarian: Karena sumber zat besi hanya berasal dari tanaman (non-heme) yang mudah terikat oleh tanin dalam teh.
FAQ (Frequently Asked Questions)
1. Apakah teh hijau lebih aman dibandingkan teh hitam untuk penderita anemia? Sebenarnya, semua jenis teh yang berasal dari tanaman Camellia sinensis (teh hitam, hijau, putih, oolong) mengandung tanin. Namun, meski teh hitam biasa memiliki kadar tanin yang lebih tinggi, teh hijau tetap bisa menghambat penyerapan nutrisi jika diminum di jam makan. Jadi, sebaiknya Sobat Sehat tetap memberi jeda waktu dari jam makan besar.
2. Apakah menambahkan susu sapi ke dalam teh bisa mengurangi risiko ini? Menambahkan susu memang bisa mengikat sebagian tanin, tetapi susu sendiri mengandung kalsium. Kalsium dalam jumlah tinggi juga dapat sedikit menghambat penyerapan zat besi. Jadi, menambahkan susu bukan solusi utama untuk mencegah anemia. Jeda waktu tetap yang paling efektif.
3. Berapa gelas teh yang aman diminum dalam sehari? Untuk orang sehat, 2-3 gelas sehari masih dianggap wajar, asalkan tidak diminum bersamaan dengan waktu makan besar. Bagi Sobat Sehat penderita anemia yang sedang dalam masa pengobatan, sebaiknya batasi konsumsi teh seminimal mungkin.
4. Apakah kopi juga memiliki efek yang sama dengan teh? Ya, kopi juga mengandung senyawa fenolik yang dapat menghambat penyerapan zat besi, meski kekuatannya di bawah teh. Aturan jeda 2 jam juga berlaku untuk kopi.
Kebiasaan minum teh setelah makan memang nikmat, namun memahami risiko anemia defisiensi besi membantu Sobat Sehat menjadi lebih bijak. Dengan memberikan jeda waktu yang cukup dan memperbanyak asupan vitamin C, Sobat Sehat tetap bisa menikmati segelas teh tanpa harus mengorbankan kecukupan zat besi dalam tubuh.
Daftar Pustaka
Hill, A. (2025, September 5). 8 side effects of drinking too much tea (J. Meacham, Rev.). Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/side-effects-of-tea
Mentari, D., & Nugraha, G. (2023). Mengenal anemia: Patofisiologi, klasifikasi, dan diagnosis. Penerbit BRIN. https://doi.org/10.55981/brin.906.c806
World Health Organization. (2017). Nutritional anaemias: Tools for effective prevention and control. World Health Organization.
Ditulis Oleh: dr. Erlina Santoso, Sp.FK - Spesialis Farmakologi Klinik
Disunting Oleh: Hamidah Indrihapsari, S.KM., M.K.M.