Sobat Sehat, tahukah bahwa kanker paru merupakan penyebab kematian nomor satu akibat kanker di dunia?
Setiap tahunnya, jutaan kasus baru terdiagnosis, dengan hampir dua juta kematian akibat kanker paru. Sayangnya, sebagian besar pasien baru terdeteksi pada stadium lanjut, ketika sel kanker telah menyebar luas di tubuh sehingga sulit untuk disembuhkan. Di Indonesia, angka kejadian kanker paru tergolong tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama kebiasaan merokok pada mayoritas masyarakat Indonesia, paparan polusi udara, serta riwayat penyakit paru sebelumnya.
Deteksi Dini Bisa Menyelamatkan Nyawa
Banyak orang berpikir bahwa CT scan paru hanya perlu dilakukan saat muncul gejala, seperti batuk berkepanjangan atau sesak napas. Padahal, skrining kanker paru justru sebaiknya dilakukan saat belum ada gejala sama sekali. Hal ini penting karena kanker paru stadium awal sering kali “diam” tanpa keluhan dan baru terdeteksi ketika sudah memasuki tahap lanjut.
Apa Itu Skrining LDCT?
Skrining kanker paru dilakukan dengan Low-Dose CT Scan (LDCT), yaitu CT scan dengan dosis radiasi yang lebih rendah. Pemeriksaan ini mampu mendeteksi kanker paru jauh lebih dini dibandingkan rontgen dada biasa, sehingga peluang pengobatan menjadi lebih baik terutama pada kelompok-kelompok berisiko tinggi.
Siapa yang Perlu Skrining?
Berdasarkan rekomendasi internasional seperti U.S. Preventive Services Task Force dan American Cancer Society, skrining LDCT dianjurkan untuk individu dengan kriteria sebagai berikut:
- Memiliki usia 50–80 tahun
- Memiliki riwayat merokok lebih dari 20 bungkus rokok per tahun
- Masih merokok atau berhenti kurang dari 15 tahun
Bagaimana dengan Non-Perokok?
Untuk individu yang tidak merokok, skrining rutin dengan LDCT belum direkomendasikan secara umum. Namun, pada kondisi tertentu seperti paparan polusi berat, riwayat keluarga kanker paru, atau riwayat penyakit paru seperti tuberkulosis—evaluasi lebih lanjut dapat dipertimbangkan secara individual melalui konsultasi dokter.
Seberapa Sering Skrining Dilakukan?
Skrining LDCT umumnya dilakukan satu kali per tahun, selama seseorang masih termasuk dalam kelompok risiko tinggi.
Jangan Tunggu Gejala Muncul!
Gejala seperti batuk berkepanjangan, batuk darah, dan penurunan berat badan biasanya baru muncul saat penyakit sudah berada pada tahap lanjut. Oleh karena itu, tujuan skrining adalah menemukan kanker sebelum gejala muncul.
Pendekatan di Indonesia
Di Indonesia, organisasi profesi seperti PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia) dan IASTO (Indonesian Association for the Study of Thoracic Oncology) telah mengembangkan sistem skoring untuk menilai kebutuhan skrining kanker paru. Penilaian ini mencakup berbagai faktor risiko, antara lain:
- Usia dan jenis kelamin
- Riwayat merokok
- Riwayat kanker pribadi dan keluarga
- Paparan zat karsinogen di tempat kerja
- Polusi lingkungan
- Riwayat penyakit paru kronik
Kesimpulan
Jika Sobat Sehat telah berusia di atas 50 tahun dan memiliki riwayat merokok, jangan menunggu hingga gejala muncul ya! Segera diskusikan dengan dokter spesialis paru terdekat, apakah Sobat Sehat perlu menjalani skrining LDCT karena deteksi dini dapat mencegah jika ada indikasi gejala penyakit memburuk.
FAQ (Frequently Asked Questions)
1. Apakah CT scan paru aman dilakukan setiap tahun?
Jawaban:
Ya, relatif aman. Skrining menggunakan Low-Dose CT Scan (LDCT) memiliki dosis radiasi yang jauh lebih rendah dibanding CT scan biasa. Pada kelompok berisiko tinggi, manfaat deteksi dini kanker paru jauh lebih besar dibandingkan risiko radiasi.
2. Apa bedanya CT scan paru dengan rontgen dada biasa?
Jawaban:
CT scan paru, terutama LDCT, jauh lebih sensitif dalam mendeteksi nodul kecil di paru yang tidak terlihat pada rontgen dada. Itulah sebabnya LDCT dipilih sebagai metode skrining kanker paru, bukan rontgen biasa.
3. Kalau hasil skrining ditemukan nodul paru, apakah pasti kanker?
Jawaban:
Tidak. Sebagian besar nodul paru yang ditemukan bukan kanker (bisa karena infeksi lama, jaringan parut, atau peradangan). Namun, nodul tetap perlu dievaluasi lebih lanjut oleh dokter untuk menentukan apakah perlu pemantauan atau pemeriksaan tambahan.
Daftar Pustaka
American Academy of Family Physicians. (2021) Lung Cancer Screening Guidelines Diakses pada 31 Maret 2026 di https://www.aafp.org/news/health-of-the-public/20210406lungcancer.html
American Cancer Society. (2023) Lung Cancer Screening Guidelines https://www.cancer.org/health-care-professionals/american-cancer-society-prevention-early-detection-guidelines/lung-cancer-screening-guidelines.html
Indonesian Association for the Study on Thoracic Oncology (IASTO) & Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). (2023). Program Skrining dan Deteksi Dini Kanker Paru.
Jonas DE, Reuland DS, Reddy SM, Nagle M, Clark SD, Weber RP, Enyioha C, Malo TL, Brenner AT, Armstrong C, Coker-Schwimmer M, Middleton JC, Voisin C, Harris RP. (2021) Screening for Lung Cancer With Low-Dose Computed Tomography: An Evidence Review for the U.S. Preventive Services Task Force. Agency for Healthcare Research and Quality (US). Report No.: 20-05266-EF-1. PMID: 33750087.
U.S. Preventive Services Task Force. (2021) Lung Cancer Screening Recommendation. Diakses pada 31 Maret 2026 di https://www-uspreventiveservicestaskforce-org.translate.goog/uspstf/document/RecommendationStatementFinal/lung-cancer-screening?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc
Ditulis Oleh: dr. Harman Prayitno, Sp.P, Fellow Onkologi Toraks
Disunting Oleh: Hamidah Indrihapsari, SKM, MKM