Halo, Sobat Sehat!
Kanker sering dianggap sebagai penyakit yang sangat mematikan. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu, lho. Dengan kemajuan ilmu kedokteran saat ini, banyak pasien kanker yang dapat menjalani pengobatan dengan baik dan kembali menjalani hidup secara produktif. Kunci utama untuk bisa bertahan dan pulih dari penyakit ini adalah deteksi dini serta penanganan yang tepat.
Apa Itu Kanker?
Sobat Sehat mungkin sudah sering mendengar penyakit ini. Kanker adalah istilah umum untuk sekelompok besar penyakit yang dapat menyerang bagian tubuh mana pun. Penyakit ini ditandai dengan pertumbuhan sel abnormal yang melampaui batas.
Berbeda dengan tumor jinak yang sifatnya lokal (hanya di satu tempat), sel kanker dapat menyerang bagian tubuh di sekitarnya dan/atau menyebar ke organ tubuh yang lain. Penyebaran inilah yang disebut dengan metastasis dan menjadi penyebab utama kematian akibat penyakit kanker.
Penyebab Kanker
Kanker terjadi akibat penumpukan mutasi genetik yang menyebabkan sel tumbuh tidak terkendali dan menyebar ke organ lain. Sebagian besar kasus kanker berhubungan erat dengan faktor risiko gaya hidup yang sebenarnya dapat diubah. Berikut adalah beberapa faktor penyebab dan risikonya:
-
Merokok Merokok merupakan faktor risiko utama kanker dan penyebab terbesar kematian akibat kanker di dunia. Kebiasaan ini berhubungan kuat dengan kanker paru, mulut, laring (kotak suara), pankreas, kandung kemih, dan beberapa organ lainnya.
-
Pola Makan Tidak Sehat & Obesitas Kelebihan berat badan dan obesitas dapat meningkatkan risiko berbagai kanker, termasuk kanker payudara (pasca menopause), usus besar (kolorektal), endometrium, ginjal, dan kerongkongan (esofagus). Selain itu, diet tinggi daging olahan juga telah diklasifikasikan sebagai karsinogen (zat pemicu kanker) oleh International Agency for Research on Cancer (IARC).
-
Kurang Aktivitas Fisik Kurangnya aktivitas fisik berkontribusi terhadap obesitas dan secara mandiri dapat meningkatkan risiko kanker tertentu, terutama kanker payudara dan usus besar.
-
Infeksi Virus atau Bakteri Sekitar 10–15% kanker di dunia berkaitan dengan infeksi kronis. Contohnya:
-
Human Papillomavirus (HPV) berkaitan erat dengan kanker serviks.
-
Hepatitis B dan C merupakan penyakit yang biasanya mendasari kanker hati.
-
Infeksi dari bakteri Helicobacter pylori dihubungkan dengan penyebab kanker lambung.
-
-
Paparan Radiasi Radiasi ultraviolet (UV) dari matahari merupakan penyebab utama kanker kulit. Paparan radiasi ionisasi dosis tinggi juga diketahui dapat meningkatkan risiko kanker.
-
Konsumsi Alkohol Mengonsumsi minuman beralkohol mampu meningkatkan risiko kanker mulut, esofagus, hati, payudara, dan usus besar.
-
Paparan Zat Kimia Karsinogen Paparan zat-zat kimia tertentu seperti asbes, benzena, dan bahan industri lainnya diklasifikasikan sebagai karsinogen oleh IARC.
-
Faktor Genetik (Keturunan) Sekitar 5–10% kanker disebabkan oleh mutasi gen yang diturunkan dalam keluarga. Namun, sebagian besar kanker terjadi akibat interaksi antara faktor keturunan dan paparan lingkungan.
Gejala Kanker
Gejala kanker sangat bervariasi, tergantung pada jenis, lokasi, dan stadium penyakitnya. Sobat Sehat perlu tahu bahwa pada tahap awal, kanker sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Oleh karena itu, deteksi dini dan pemeriksaan (skrining) rutin sangatlah penting.
Secara umum, berikut adalah tanda dan gejala yang perlu diwaspadai:
-
Penurunan Berat Badan Tanpa Sebab Jelas: Turun berat badan drastis (>5 kg) dalam waktu singkat tanpa melakukan diet atau olahraga bisa menjadi tanda kanker tertentu, seperti kanker saluran cerna atau paru.
-
Benjolan atau Pembengkakan: Waspadai benjolan yang timbul di payudara, leher, ketiak, atau bagian tubuh lain yang biasanya tidak nyeri, cepat membesar, dan tidak menghilang dalam beberapa minggu.
-
Kelelelahan Berkepanjangan: Rasa lelah parah yang tidak kunjung membaik meski sudah cukup istirahat.
-
Nyeri yang Menetap: Nyeri yang terus-menerus tanpa sebab jelas, terutama jika semakin berat, bisa menjadi tanda adanya kanker.
-
Perdarahan Tidak Normal: Perhatikan jika terjadi keluhan seperti batuk darah, BAB berdarah, perdarahan di luar siklus haid, atau perdarahan yang terjadi setelah menopause.
Selain gejala umum di atas, ada pula gejala spesifik berdasarkan organ tubuh yang terjangkit kanker, seperti:
-
Paru-paru: Waspadai batuk lama yang tidak kunjung sembuh lebih dari 2–3 minggu. Keluhan juga bisa disertai dengan sesak napas, nyeri dada, dan batuk darah.
-
Payudara: Lakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), dan perhatikan apakah ada benjolan, perubahan bentuk/ukuran payudara, puting yang tertarik ke dalam atau mengeluarkan cairan, maupun tekstur kulit payudara yang mengkerut menyerupai kulit jeruk.
-
Saluran Cerna: Gejala paling sering adalah perubahan pola BAB, BAB berdarah, nyeri perut, dan kesulitan saat menelan.
-
Kulit: Waspadai luka di kulit yang tidak kunjung sembuh, serta adanya perubahan bentuk, ukuran, atau warna pada tahi lalat.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera periksakan diri ke dokter apabila Sobat Sehat mengalami keluhan yang tidak biasa dan berlangsung terus-menerus, terutama bila:
-
Gejala menetap lebih dari 2–3 minggu, meskipun sudah diobati secara mandiri atau dianggap sebagai keluhan ringan.
-
Gejala semakin memburuk dari waktu ke waktu, misalnya nyeri yang makin berat, batuk yang makin sering, atau benjolan yang terasa semakin besar.
-
Terjadi perdarahan tanpa sebab yang jelas (batuk darah, BAB berdarah, perdarahan di luar siklus haid, atau setelah menopause).
-
Ditemukan benjolan yang membesar, keras, atau tidak mau hilang, terutama jika tidak disertai rasa nyeri dan ukurannya terus bertambah.
Penting untuk Sobat Sehat pahami bahwa tidak semua gejala di atas mutlak berarti kanker. Banyak penyakit lain yang jauh lebih ringan yang juga dapat menimbulkan keluhan serupa. Namun, satu-satunya cara untuk memastikan penyebabnya adalah dengan melakukan pemeriksaan medis ke dokter.
Semakin dini suatu penyakit terdeteksi, semakin besar pula peluang untuk mendapatkan pengobatan yang efektif dan sembuh total. Menunda pemeriksaan justru berisiko membuat penyakit baru ditemukan saat sudah memasuki stadium lanjut, sehingga penanganannya menjadi jauh lebih sulit dan kompleks.
Perlu ditekankan kembali bahwa kanker pada stadium awal sering kali tidak memberikan sinyal tubuh yang jelas. Seseorang bisa saja merasa sehat dan tetap beraktivitas seperti biasa, padahal perubahan sel abnormal sudah mulai terjadi secara diam-diam di dalam tubuhnya.
Oleh karena itu, langkah pencegahan dan deteksi dini menjadi benteng pertahanan terbaik, dengan cara:
-
Melakukan skrining secara berkala sesuai usia dan faktor risiko kesehatan, seperti pap smear, mamografi, kolonoskopi, atau pemeriksaan kesehatan (Medical Check-Up) rutin sesuai anjuran tenaga medis.
-
Mengenali setiap perubahan pada tubuh sendiri, seperti munculnya benjolan baru, perubahan tahi lalat, perubahan kebiasaan ke toilet (BAB/BAK), atau penurunan berat badan tanpa sebab yang wajar.
-
Tidak menunda pemeriksaan medis bila ada keluhan yang mencurigakan, meskipun rasanya masih ringan atau belum mengganggu aktivitas.
Ingatlah selalu, Sobat Sehat, bahwa melakukan deteksi dini bukan berarti kita "mencari-cari penyakit". Deteksi dini adalah bentuk kepedulian untuk memberikan kesempatan terbaik bagi diri sendiri dalam menjaga kesehatan dan meningkatkan peluang kesembuhan jika memang ada gangguan kesehatan sejak awal.
Daftar Pustaka
de Martel, C., Georges, D., Bray, F., Ferlay, J., & Clifford, G. M. (2020). Global burden of cancers attributable to infections in 2018: A worldwide incidence analysis. The Lancet Global Health, 8(2), e180–e190.
International Agency for Research on Cancer. (2015–2023). IARC monographs on the identification of carcinogenic hazards to humans. World Health Organization.
Rumgay, H., Shield, K., Charvat, H., Ferrari, P., Sornpaisarn, B., Obot, I., Islami, F., Lemmens, V. E. P. P., Rehm, J., & Soerjomataram, I. (2021). Global burden of cancer in 2020 attributable to alcohol consumption: A population-based study. The Lancet Oncology, 22(8), 1071–1080.
Sung, H., Ferlay, J., Siegel, R. L., Laversanne, M., Soerjomataram, I., Jemal, A., & Bray, F. (2021). Global cancer statistics 2020: GLOBOCAN estimates of incidence and mortality worldwide for 36 cancers in 185 countries. CA: A Cancer Journal for Clinicians, 71(3), 209–249.
United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation. (2017). Sources and effects of ionizing radiation: 2017 report. United Nations.
World Health Organization. (2023). WHO report on the global tobacco epidemic, 2023: Protect people from tobacco smoke. World Health Organization.
World Health Organization. (2024). Cancer. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cancer
Ditulis Oleh: dr. Dede Sulaeman Farisi, Sp.Onk.Rad - Spesialis Onkologi Radiasi
Disunting Oleh: Hamidah Indrihapsari, S.KM., M.K.M.