Tahukah Sobat Sehat bahwa tidak hanya diabetes dan hipertensi yang bisa merusak ginjal? Faktanya, ada faktor lain yang selama ini jarang kita sadari dapat memengaruhi kondisi kesehatan ginjal, yaitu lingkungan – bumi, tempat kita semua tinggal.
Setiap tahun, dunia memperingati Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day) untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan ginjal. Tahun ini, tema yang diangkat untuk perayaan Hari Ginjal Sedunia adalah “Kidney Health for All – Caring for People, Protecting the Planet” yang menekankan dua hal besar, yaitu:
1. Caring for People atau merawat manusia melalui deteksi dini penyakit ginjal, akses pelayanan kesehatan yang adil untuk pengobatan penyakit ginjal, serta edukasi pencegahan gagal ginjal pada populasi berisiko; serta
2. Protecting the Planet atau melindungi planet dengan menghubungkan kesehatan ginjal dengan lingkungan seperti dampak polusi udara, panas ekstrem, sampah air, energi, serta tindakan dialysis harus menjadi lebih ecofriendly (ramah lingkungan) tanpa mengurangi kualitas pelayanan yang didapatkan oleh pasien.
Sesuai dengan tema Hari Ginjal Sedunia tahun ini, Sobat Sehat mungkin tidak menyadari bahwa selain gaya hidup, lingkungan juga bisa sangat memengaruhi kesehatan ginjal.
Lalu, bagaimana lingkungan tempat kita tinggal dapat berpengaruh terhadap kesehatan ginjal kita?
a. Polusi udara
Partikel kecil dari polusi udara (PM 2.5, nitrogen dioksida) dapat masuk ke aliran darah melalui paru-paru, memicu peradangan sistemik dan radikal bebas di pembuluh darah termasuk pembuluh darah ginjal dan jaringan ginjal itu sendiri sehingga peradangan ginjal yang berlangsung kronik dan menahun bisa menurunkan fungsi ginjal secara perlahan1,2.
b. Polusi tanah dan air
Ginjal adalah organ yang menyaring racun yang masuk ke dalam tubuh baik melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi sehingga bila tanah dan air di lingkungan terpapar logam berat dari industri seperti timbal, merkuri, atau kadmium, maka semua logam berat tersebut bisa menyebabkan peradangan ginjal, kebocoran ginjal, dan merusak ginjal secara perlahan1,3.
c. Perubahan iklim ekstrem
Peningkatan suhu global, akibat perubahan iklim, secara langsung dan tidak langsung memengaruhi kesehatan ginjal. Stres panas dan dehidrasi, khususnya di kalangan pekerja luar ruangan di iklim panas, akan meningkatkan risiko serangan panas/heat stroke yang berhubungan dengan kerusakan ginjal4. Fenomena ini telah banyak didokumentasikan di kalangan pekerja pertanian di Amerika Tengah, India, dan wilayah lain dengan iklim panas, di mana paparan panas yang berkepanjangan dan hidrasi yang tidak memadai berkontribusi pada kerusakan ginjal berulang5. Perubahan iklim juga memperburuk penyebaran penyakit yang ditularkan melalui hewan vektor (misalnya, demam berdarah dan malaria) yang selanjutnya juga akan berdampak pada kesehatan ginjal6.
d. Kebutuhan air bersih
Ginjal memiliki fungsi utama menyaring racun dan zat sisa dari darah. Agar proses ini berjalan dengan baik, tubuh membutuhkan cairan yang cukup. Akses terhadap air bersih menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan ginjal. Di daerah yang kekurangan air bersih atau mengalami pencemaran air, masyarakat berisiko mengalami dehidrasi maupun paparan zat berbahaya yang dapat merusak ginjal.
e. Obat dan herbal yang tidak jelas kandungannya
Penggunaan obat herbal atau suplemen yang tidak jelas kandungannya, bisa mengandung zat yang berbahaya bagi ginjal dan menyebabkan kerusakan ginjal baik secara langsung atau tidak langsung. Konsumsi obat-obatan anti nyeri golongan non steroid yang sering dijual bebas dan digunakan sembarangan tidak di bawah pengawasan dokter, juga bisa merusak ginjal secara perlahan7.
f. Limbah medis dari tindakan dialisis
Terapi pengganti ginjal yang dilakukan pada pasien-pasien gagal ginjal stadium akhir, seperti terapi dialisis juga menghasilkan limbah medis dan menggunakan banyak air serta energi, sehingga tingginya angka dialisis juga akan memengaruhi kesehatan lingkungan itu sendiri. Untuk itulah, sangat penting untuk melakukan pengelolaan sumber daya dan limbah dialisis secara berkelanjutan, seperti mendaur ulang cairan dialisis yang telah digunakan (spent dialysate) dan air buangan dari sistem reverse osmosis (RO reject), serta pemilahan limbah medis (waste triage) untuk meminimalkan dampak lingkungan8.
Menjaga lingkungan sebenarnya juga merupakan cara untuk melindungi kesehatan manusia, termasuk ginjal. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat antara lain dengan menjaga kebersihan sumber air, mengurangi pencemaran lingkungan, menghemat penggunaan air, dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
Kesehatan ginjal dan kesehatan lingkungan saling berkaitan erat. Menjaga kesehatan ginjal tidak hanya tentang pola makan dan penyakit kronik, tetapi juga tentang lingkungan tempat kita hidup. Ginjal sehat bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab kita bersama untuk menjaga lingkungan yang sehat. Lingkungan yang bersih, air yang aman, dan udara yang sehat dapat membantu melindungi ginjal dari berbagai risiko penyakit dan sebaliknya, dengan menjaga kesehatan ginjal, kita juga akan bisa menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan dari limbah-limbah yang dihasilkan akibat penyakit ginjal. Jadi, dengan menjaga lingkungan, kita tidak hanya merawat bumi, tetapi juga menjaga kesehatan tubuh kita sendiri.
Daftar Pustaka
1. Rivera AG, Vazquez OS, Flores BC. 2025. Environmental Pollution and Kidney Disease: A Growing Public Health Concern. KidneyNews Online vol 17(5). https://doi.org/10.62716/kn.000552025.
2. Blum MF, et al. Particulate matter and albuminuria, glomerular filtration rate, and incident CKD. Clin J Am Soc Nephrol 2020; 15:311–319. doi: 10.2215/CJN.08350719.
3. Farkhondeh T, et al. Drinking water heavy metal toxicity and chronic kidney diseases: A systematic review. Rev Environ Health2020; 36:359–366. doi: 10.1515/reveh-2020-0110.
4. Chapman CL, et al. Occupational heat exposure and the risk of chronic kidney disease of nontraditional origin in the United States. Am J Physiol Regul Integr Comp Physiol 2021; 321:R141–R151. doi: 10.1152/ajpregu.00103.202.
5. Priyadarshani WVD, et al. Rising of a global silent killer: Critical analysis of chronic kidney disease of uncertain aetiology (CKDu) worldwide and mitigation steps. Environ Geochem Health 2023; 45:2647–2662. doi: 10.1007/s10653-022-01373-y.
6. Barraclough KA, et al. Climate change and kidney disease-threats and opportunities. Kidney Int 2017; 92:526–530. doi: 10.1016/j.kint.2017.03.047.
7. National Kidney Foundation. Herbal Supplements and Kidney Disease. September 2025.
8. Vanholder, Raymond et al. 2026. “Kidney Health for All: Caring for People, Protecting the Planet.” Kidney International 109(3): 408–17. https://doi.org/10.1016/j.kint.2025.12.020.
Penulis: dr. RA Adaninggar PN, Sp.PD-KGH
Penyunting: Hamidah Indrihapsari, SKM, MKM