Halo, Sobat Sehat! Pernahkah Anda mendengar tentang pemeriksaan medis bernama PET Scan?
Positron Emission Tomography (PET) adalah salah satu pemeriksaan pencitraan medis (seperti rontgen atau MRI) berteknologi tinggi yang digunakan untuk melihat proses metabolisme dan fungsi sel-sel di dalam tubuh kita.
PET Scan paling sering diandalkan dalam penanganan penyakit kanker (onkologi), gangguan saraf (neurologi), dan penyakit jantung (kardiologi). Agar hasilnya sangat presisi, pemeriksaan ini biasanya digabungkan dengan CT Scan, sehingga dikenal dengan sebutan PET/CT.
Mari kita bahas lebih dalam tentang teknologi canggih ini!
1. Bagaimana Cara Kerja PET Scan?
Untuk melakukan pemeriksaan ini, tubuh Sobat Sehat akan diberikan cairan khusus yang aman, disebut radiotracer (paling umum bernama 18F-FDG, yang berbahan dasar glukosa/gula).
Karena sel-sel yang sakit (seperti sel kanker) biasanya menyerap gula lebih banyak dan lebih cepat daripada sel normal, alat pendeteksi pada mesin PET akan menangkap sinyal dari cairan tersebut. Hasilnya adalah gambaran visual yang menunjukkan area mana di dalam tubuh yang memiliki aktivitas tidak normal. Salah satu keunggulan utama PET adalah kemampuannya mengukur tingkat keparahan penyakit secara angka pasti, atau yang di dunia medis disebut dengan Standardized Uptake Value (SUV).
2. Kapan PET Scan Biasanya Dibutuhkan?
PET Scan sangat berguna untuk tiga bidang utama:
-
Onkologi (Kanker): Mendeteksi kanker sejak dini, menentukan stadium, mengevaluasi keberhasilan terapi (seperti kemoterapi), dan mengecek apakah kanker muncul kembali.
-
Neurologi (Saraf & Otak): Mengevaluasi kondisi seperti demensia, epilepsi, dan gangguan saraf lainnya.
-
Kardiologi (Jantung): Menilai aliran darah dan melihat apakah otot jantung masih hidup dan berfungsi sebelum dokter melakukan tindakan operasi saluran darah jantung.
3. PET/CT vs SPECT/CT: Apa Bedanya?
Sobat Sehat mungkin juga pernah mendengar SPECT/CT. Apa bedanya? PET memiliki sensitivitas yang jauh lebih tinggi dan gambar yang lebih tajam dibandingkan SPECT. PET juga memiliki lebih banyak pilihan cairan radiotracer yang bisa menargetkan penyakit secara sangat spesifik (misalnya DOTATATE, PSMA, atau Florbetaben). Walaupun SPECT umumnya lebih murah, PET adalah juara utama untuk deteksi dini dan analisis penyakit yang lebih mendalam.
4. Perkembangan Teknologi PET Terkini
Dunia medis terus berkembang. Saat ini, terdapat sistem Digital PET dan Total-Body PET yang mampu meningkatkan kepekaan alat hingga 40 kali lipat dibandingkan PET biasa! Keuntungannya bagi pasien? Pemeriksaan berjalan jauh lebih cepat dan paparan radiasinya menjadi sangat rendah.
5. Apakah PET Scan Aman? Bagaimana Persiapannya?
Sangat aman! Radiasi pada PET/CT berada dalam batas yang sangat aman dan selalu mematuhi standar keselamatan medis. Jika Sobat Sehat akan menjalani PET Scan, berikut persiapan umumnya:
-
Berpuasa selama 4–6 jam sebelum pemeriksaan.
-
Minum air putih yang cukup (hidrasi).
-
Menghindari olahraga atau aktivitas fisik berat 24 jam sebelumnya.
-
Khusus bagi penderita diabetes, kadar gula darah harus dikontrol dengan baik sebelum tindakan.
6. Peran PET Scan Lebih Detail di Berbagai Bidang
A. Bidang Onkologi (Kanker)
-
Kasus umum: Kanker paru, limfoma, kanker kolorektal, dan kanker payudara.
-
Contoh nyata: Seorang pasien kanker paru menjalani PET Scan untuk melihat hasil kemoterapi ketiganya. Hasilnya, angka aktivitas kanker (SUVmax) turun drastis dari 12 menjadi 4. Ini adalah kabar baik yang menandakan tubuh merespons terapi dengan sukses!
-
Catatan: Untuk kanker spesifik seperti kanker prostat, dokter bisa menggunakan cairan 68Ga-PSMA yang kepekaannya luar biasa tinggi dalam melacak penyebaran sel.
B. Bidang Kardiologi (Jantung)
-
Kasus umum: Penyakit jantung koroner, peradangan jantung, dan lemah jantung.
-
Contoh nyata: Seorang pasien yang pernah mengalami serangan jantung melakukan PET Scan. Hasilnya menunjukkan bahwa jaringan otot jantung yang rusak ternyata masih hidup (viabel). Berkat informasi ini, dokter tahu bahwa tindakan operasi pembukaan pembuluh darah (revaskularisasi) akan sangat bermanfaat untuk memulihkan jantung pasien.
C. Bidang Neurologi (Saraf & Otak)
-
Kasus umum: Alzheimer, Parkinson, epilepsi, dan tumor otak.
-
Contoh nyata: Pada pasien epilepsi yang sering kejang, PET Scan bisa menunjukkan area otak mana yang mengalami penurunan metabolisme. Hasil gambaran ini akan menjadi "peta" yang sangat akurat bagi dokter bedah saraf jika pasien memerlukan tindakan operasi.
7. Mengapa Memilih Layanan PET Scan di RS Kemenkes Surabaya?
Jika Sobat Sehat atau keluarga membutuhkan layanan ini, RS Kemenkes Surabaya menawarkan berbagai keunggulan:
-
Peralatan Super Modern: Menjadi fasilitas pionir (pelopor) di Jawa Timur yang menggunakan sistem PET/CT digital terbaru.
-
Rujukan Kanker Nasional: Merupakan bagian penting dari jejaring pengampuan kanker Kementerian Kesehatan RI.
-
Harga Sangat Terjangkau: Tarif PET-Scan hanya Rp 9.300.000
-
Tim Ahli: Ditangani langsung oleh tim spesialis kedokteran nuklir dan onkologi yang terlatih dan berpengalaman.
PET/CT adalah alat diagnostik revolusioner. Dengan hadirnya layanan modern bertarif terjangkau di RS Kemenkes Surabaya, penanganan penyakit berat di Jawa Timur dan sekitarnya kini menjadi jauh lebih mudah diakses oleh masyarakat luas. Salam sehat selalu!
Daftar Pustaka
Alqahtani, F. F., et al. (2022). SPECT/CT and PET/CT: Comparison and applications. Frontiers in Nuclear Medicine.
Catafau, A. M., & Bullich, S. (2023). Amyloid PET imaging in dementia. Quantitative Imaging in Medicine and Surgery, 13(2), 811–824.
Cherry, S. R., Sorenson, J. A., & Phelps, M. E. (2018). Physics in nuclear medicine (5th ed.). Elsevier.
Di Carli, M. F., & Heller, G. V. (2023). Cardiac PET/CT: Current status and future directions. Radiographics, 43(5), E87–E105.
Frontiers Editorial Office. (2024). Challenges in FDG-PET interpretation. Frontiers in Nuclear Medicine.
Hentschel, M., et al. (2023). Cost-effectiveness of PET/CT vs SPECT in oncology. European Journal of Nuclear Medicine and Molecular Imaging.
International Commission on Radiological Protection (ICRP). (2007). The 2007 recommendations of the International Commission on Radiological Protection (ICRP Publication 103). Annals of the ICRP, 37(2–4), 1–332.
Kapoor, M. (2022). Positron emission tomography (PET) scanning. In StatPearls. NCBI Bookshelf.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Pedoman jejaring pengampuan kanker nasional. Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Rencana kanker nasional 2024–2034. Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Press release: PET/CT facility at RS Kemenkes Surabaya. Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Profil tenaga kesehatan layanan kedokteran nuklir Indonesia 2025. Pusat Kanker Nasional.
Papadopoulos, K., et al. (2024). The efficacy of PET/CT in diagnosis of local recurrence and metastases. Cancers, 16(4), 912.
QIMS Editorial. (2024). FDG-PET in temporal lobe epilepsy: Diagnostic accuracy. Quantitative Imaging in Medicine and Surgery.
Rahmim, A., & Zaidi, H. (2022). PET versus SPECT: Strengths and limitations. Swiss Medical Weekly, 152, w30100.
Radiological Society of North America (RSNA). (2023). PET imaging in myocardial viability. Radiographics.
RS Kemenkes Surabaya. (2025). Brosur layanan PET scan promo 2025. https://rskemenkessurabaya.go.id
Society of Nuclear Medicine and Molecular Imaging (SNMMI). (2022). Procedure guideline for FDG-PET brain imaging (v2.0).
Sun, Y., et al. (2024). Performance of the total-body PET/CT scanner. EJNMMI Research, 14(5), 121.
van der Geest, K. S. M., et al. (2025). 18F-FDG PET/CT for polymyalgia rheumatica: Agreement and diagnostic accuracy. Frontiers in Nuclear Medicine.
Zhang, X., & Liu, S. (2025). Targeted tracers in PET molecular imaging. Frontiers in Oncology.